Mengubah Paradigma Asuransi

  • 22 Apr 2014 18:29
  • Artikel
  • 0 komentar

asuransi jiwa - bridge indonesia - artikelPerkembangan industri asuransi jiwa di Indonesia belakangan ini cukup pesat. Jumlah premi meningkat tajam, klaim yang dibayar sebagai manfaat berasuransi semakin signifikan. Masyarakat yang berasuransi secara individual ataupun kelompok bertambah banyak. Jumlah agen asuransi pun terus meningkat. Semua itu membuktikan bahwa asuransi memang sebagai salah satu pembuka lapangan kerja serta bermanfaat bagi ekonomi dan akhirnya masyarakat secara luas. Jika dibandingkan dengan kinerja industri sejenis di negara lain, Indonesia memang masih tertinggal. Tentu saja, kondisi itu terkait dengan tingkat kesejahteraan dan pemahaman masyarakat terhadap manfaat berasuransi.

Pertanyaannya, apakah masyarakat harus terlebih dahulu sejahtera baru mereka ditawari produk asuransi? Atau sebaliknya. Justru karena belum sejahtera sehingga masyarakat perlu dan penting diajak berasuransi? Itulah paradigma asuransi. Paradigma berasuransi yang terbangun saat ini di masyarakat ialah asuransi identik dengan kemalangan. Entah itu meninggal, kecelakaan, dan lainnya. Karena itu, saat seseorang diajak berasuransi atau ditawari polis asuransi, yang terbayang seketika ialah kematian, sakit, atau kecelakaan sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan finansial diri sendiri dan keluarga.

Itu ada benarnya.Jika paradigma tadi dibiarkan terus-menerus hidup dalam masyarakat, perkembangan asuransi akan tetap lambat dibandingkan dengan besarnya harapan dan potensi pasar asuransi nasional.

Penduduk yang berjumlah 220 juta jiwa bukanlah pasar kecil bagi asuransi di tengah semakin meningkatnya pendapatan per kapita penduduk.Oleh sebab itu, pesan "proteksi" dengan konotasi kemalangan yang masih sering "dijual" kalangan asuransi, perusahaan, agen, sudah harus diubah dan diganti menjadi pesan"kesejahteraan".Di sinilah pentingnya peran agen asuransi sebagai ujung tombak industri ini. Merekalah yang berhadapan langsung dengan masyarakat.

Sumber: www.kompas.com

0 komentar

Kirim Komentar